Ketika Cinta Bertasbih

03:55 9
            Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh, semoga rahmat Allah tercurah untukku dan untukmu. Dini hari dengan suasana tenang, alam syahdu bertasbih pada Allah Sang Pencipta Alam. Ada perasaan berkecamuk dalam dada. Membuat gelisah, nggak nyaman, dan gue sebelumnya belum pernah merasa seperti ini. Entahlah, gue nggak bisa juga mendeskripsikannya lewat kata-kata. Hanya Allah dan gue yang tahu.
            Sebenernya banyak kesibukan yang udah gue lakukan untuk menghindar dari perasaan ini. Gue ikut organisasi, kerja kelompok, lomba debat bahasa Indonesia tingkat provinsi beberapa hari lalu yang menyita banyak waktu , dan lain sebagainya. O iya, cerita bentar yak. Kemarin gue dan Annisa dipercaya lagi buat mewakili kabupaten Boyolali untuk maju ke provinsi. Pembicara ketiga yang sebelumnya Muhtaris diganti dengan Dik Miki yang masih duduk di kelas X. Lomba ini super duper bikin kecewa maksimal. Saat itu diambil 8 besar untuk maju ke tahap selanjutnya. Dan smaga dapet ranking 9 seprovinsi. Gilaaa, Ya Allah saat itu rasanya gemez, kzl, duh kok alay sih. Hmm, tinggal satu nomor lagi bisa masuk 8 besar. Allah nggak berkehendak. Ya udah deh diterima dengan lapang aja kan yak. Pembina gue bilang, bisa masuk 10 besar se provinsi Jawa Tengah udah bagus.
            Kali ini gue ngga ingin bercerita tentang lomba debat kemarin tapi hal lain yang mendesak. Okay, tafadhol to read it carefully ehehe
            Masa SMA penuh dengan cobaan dan godaan. Ya, kalau kita nggak pinter-pinter mengelola perasaan, emosi, pergaulan, uhh bahaya tu. Nah, apalagi sekarang pergaulan di SMA menurut gue nggak syar’i banget. Ya kecuali kalau di pondok, gue dari dulu sampai sekarang sekolahnya negeri terus belum pernah mondok, mau mondok aja ga dapet ridho dari ayah dan ibu.. sekarang batasan pergaulan cowok dan cewek seperti tak ada batas, transparan, tak ada rasa malu, sering terjadi ikhtilat dan orang-orang menganggap sebagai hal yang biasa. Nah ini yang bikin gue gelisah dan syok, dan gue pengen numpahin semuanya di tulisan ini.
            Perlu diketahui, bacaan juga berpengaruh sih saat masa putih abu-abu ini. Kalau bacaannya macem novel romance yang menyuguhkan romantisme anak muda dan yang baca baper, itu pengaruhnya besar di kehidupan sehari-hari. Alhamdulillah gue selektif dalam bacaan. Sekarang gue baru baca novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Btw, kapan ya gue baca novel karya Zalfaa Azalia? :”D Kemarinnya juga baca karya beliau yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-Ayat Cinta. I know, all of them are old novel. Tapi, karakter yang diciptakan penulis, selalu membuat iman naik. Seperti Fahri, yang mashaa Allah, pemuda sholeh yang lembut hatinya, memegang kuat ajaran Islam, selalu menundukkan pandangan pada wanita non mahram, memuliakan wanita, dan lucu saat gue baca bagian dia ta’aruf dengan Aisha. Mereka yang sama-sama berlatarbelakang agama baik dan for the first time menatap lekat wajah yang bukan mahram. Pasti deg-degan banget. Serius, saat baca bagian ini gue senyum-senyum sendiri. Romantisme seperti inilah yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar menjaga kehormatan perasaannya dan berpegang teguh pada ajaran Islam.
            Jadi gini, di kelas entah dari mana beredar luas gosip antara gue dan si anu. Eh bentar kok nggak enak ya kalau di sebut si anu. Yaudah sebut aja namanya  Zafran. Gatau darimana awalnya tau-tau temen-temen sekelas selalu godain gue dengan jadi mak comblang antara gue dan dia. Gue sih awal-awalnya mikir paling lama kelamaan pada bosen. In fact, my mind goes wrong. Sampai sekarang gaes masih ada satu dua temen-temen yang ngomporin kalau si Zafran ada rasa sama gue.
            Oke, sebelumnya pernah beberapa saat yang lalu, udah agak lama sih Zafran mengirim pesan BBM ke gue yang intinya minta maaf atas sikapnya selama ini yang dia anggap perhatiannya yang lebih itu mengganggu gue. Pertamanya gue bingung buat apa coba dia minta maaf dan selama itu gue nggak terlalu ambil hati terhadap sikap apa pun yang dia lakukan ke gue. Akhirnya pesan itu nyebar ke penjuru kelas. Uww, thats so embarrassing!! Malah semakin menjadi-jadi temen-temen gue di kelas. Masa gue disuruh peka lah, disuruh nggak nggantungin orang, lah emangnya jemuran emak ya kok digantung segala. Gue hanya bisa beristighfar.
            Emang sih sikap Zafran selama ini baik ke gue dan itu gue anggap wajar. Bahkan saat nenek gue meninggal, dia juga dateng ke rumah. Gue anggap itu wajar aja karena kita temen sekelas. Tapi, saat tanggal 22 April 2017 kemarin saat menunggu jemputan, salah seorang temen gue bilang kalau Zafran ada perasaan ke gue. Gue sih nanggepinnya santai dan dengan guyon aja. Tapi, dia bilang dengan serius. Dan dia tanya “Zal, gimana kalau Zafran beneran suka sama kamu?”
Dengan enteng gue jawab “Ya manusiawi kan.. Tapi, prinsipku untuk menjadi single sampai nikah udah bulat.” Kata gue dengan tersenyum. Dia kembali bertanya “Beneran Zal kamu gak mau pacaran?” gue jawab “In shaa Allah gak akan, buat apa juga pacaran.” Dia manggut-manggut aja.
            Gue analisa ya.. gue orang yang sering baca novel dan menurut penelitian orang yang suka baca buku lebih peka perasaannya. Nah, gue termasuk orang yang peka, eaaa.. sebenernya dari sikap Zafran selama ini ke gue, easily I can say if he acts different to me dan gue pikir dia ada rasa sama gue. Ini bukan GR lho tapi emang ada suatu fakta tersendiri yang gabisa gue tulis di sini, gue harus jaga privasi lah..
Nah, gue awalnya bingung gimana nanggepinnya. Gue kan anak Rohis, ya harusnya dia tahu lah kalau nggak mungkin banget ada peluang untuk pacaran. Tbh, setelah dia ngirim pesan itu di hari berikutnya sikapnya ke gue nggak kayak biasanya. Terkesan menghindar. Pfft, padahal beberapa hal gue masih harus satu kelompok sama dia. Suasana jadi kaku, gue nggak ingin begini. Dan bahkan lo tau nggak, Pak Karjono (wali kelas) kalau ketemu gue pasti nyebut-nyebut nama Zafran sambil senyum-senyum. Contohnya sebelum gue berangkat ke Semarang kemarin beliau bilang “Udah pamitan ke Zafran, Zalfaa?” gue cuma bisa geleng-geleng sambil senyum aja. Sampai sekarang gaes, sikap ke Zafran ke gue masih beda dan gue harap Allah memberi setitik cahaya-Nya di hati Zafran agar mengikhlaskan cinta yang belum halal. Aamiin..
Gue berdoa sama Allah agar Dia menjaga hati gue tetep steril, gak tergoda dengan modus lelaki mana pun! Gue berazzam hanya untuk jatuh cinta pada suami gue kelak.  Cinta dan hati, hal paling berharga pada diri gue nggak akan dengan sembarangan gue kasih ke seorang ikhwan. Sebelum akad nikah, gue harap Allah jaga hati gue agar nggak jatuh cinta pada lelaki mana pun. Setelah akad terucap, barulah dengan sepenuh hati, gue serahkan hal yang paling gue jaga selama ini ke suami gue kelak, yaitu hati dan cinta.
Menghela nafas...
Mau modus macam apa pun atau modus syar’i macam aktivis dakwah yang maaf, belum sepenuhnya memahami Islam. Contoh : pertamanya kirim tausyah tapi terus ngajakin chat nggak penting. Atau sok-sokan bangunin tahajjud. Uh, itu bikin gue ilfil. Bersabarlah wahai hati, Allah sudah persiapkan imam terbaik untukmu.. dia sedang memperbaiki diri juga.
Gue ambil judul postingan ini juga dari novel Kang Abik yaitu Ketika Cinta Bertasbih. Syahdu gitu yak bacanya. Gue ingin, semoga cahaya cinta ini tak terbawa arus modern yang menyesatkan. Dimana dengan mudah seseorang baper dan menaruh hati pada lawan jenis yang berhasil mencuri hatinya. Lalu terjadilah pdkt hingga pacaran yang dilarang agama. Cinta tak lagi menjadi suci. Seolah-olah ia adalah barang obral yang siapa pun bisa menjamahnya. Aturan agama yang indah dianggap kaku dan primitif. Para pecinta dunia yang menuhankan nafsu belaka. Hidup bebas tanpa aturan yang seolah-olah menyenangkan namun pada faktanya kosong, hampa, dan tak ada rahmat Allah di dalamnya.
Hanya orang-orang yang diberi-Nya hidayah dan dijaga-Nya untuk memahami dan menjalankan aturan-Nya di bumi cinta ini. Segelintir hamba-Nya yang masih menjaga kehormatan perasaan dan berpegang teguh pada ajaran agama walau pun terasa seperti menggenggam batu bara, mereka sanggup karena takut akan siksa neraka jika mereka ingkar dan yakin akan janji manis dari Allah Ar Rahman. 
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?, kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar Rahmaan 46-51)
Image by kawanimut
Biarkanlah cinta bertasbih mengikuti alur dari Pembuat Alur itu sendiri. Jangan terlalu mudah untuk memberi hati dan perasaan pada seseorang. Hati dan cinta adalah hal yang paling berharga, menjaganya laksana menjaga kehormatan diri. Sebelum terikrar janji nyata yang sah menurut agama dan bahkan dilindungi negara, tak ada kata baper dan jatuh cinta. Biarkan hati dihadiahkan pada teman hidup masa depan yang Allah berikan. Semoga aku dan kamu, dijaga hatinya oleh Allah dan berazzam kuat untuk memberikan cinta dan hati hanya untuk teman hidup masa depan.
Jangan sampai kita tergelincir dalam hakikat modernisasi yang menyesatkan. Tak ada rasa malu, mengedepankan tampilan fisik untuk bergaya pada sesama, dan pribadi Muslim yang perlahan luntur. Semoga Allah menjaga kita dari hal-hal tersebut dan Dia izinkan untuk mendapat akhir hayat yang baik. Aamiin..
And then, gue agak lega nulis ini. Jujur ya, gue sama sekali nggak tertarik dengan lelaki yang mengandalkan paras, atau kendaraannya, atau modal kata-kata manisnya tapi yang pertama gue lihat adalah agama dan akhlaknya. Kalau dari fisik dia udah pakai celana cingkrang dan jenggot style, itu menambah poin plus tersendiri di mata gue. Artinya dia udah ngenal sunnah. Yang kedua lihat aja, gimana kualitas Subuhnya, kalau dinginnya udara pas Subuh aja bisa dia taklukin apalagi hati kamu.. ciat ciat, eh apaan sih wqwq..apalagi kalau pas lagi hujan dia nekat ke masjid sambil bawa payung. Duuuh, hmmmm.... dan jujur sih pengen dapet yang suaranya merdu jadi bisa belajar baca Qur’an yang bener sama dia dan pas di imamin jadi tambah khusyuk. Tapi stop dulu Zal. Apakah lo udah sebaik itu, berani-beraninya pengen yang high quality? Ok, look at QS An Nur verse 26. I have to organize myself, and I wondering “Am I good enough to be the lover of an activist of dakwah? Look at the mirror first Zal!

Semoga bisa diambil hikmahnya. Yang jelek tinggalin aja yak. Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Muhasabah Diri

09:45 14
Untuk apa sekarang kagum akan kecantikan atau pun ketampanan yang melekat pada diri
Untuk apa berlomba memamerkan harta benda milik orang tua
Untuk apa berlelah diri menunjukkan bahwa diri adalah yang terhebat
Untuk apa merasa bangga jika dikagumi banyak orang
Untuk apa memiliki hasrat kuat tuk memiliki seseorang
Untuk apa merasa marah atas semua keadaan menyakitkan
Untuk apa cinta karena syahwat terus diperjuangkan
Akhi ukhti,
Aku bukannya lebih pandai darimu
Marilah sejenak merenung bersama
Aku pun juga belum sebaik apa yang kutulis
Begini..
pic by : kawanimut
Kecantikan dan ketampanan akan habis dimakan usia. Kau akan menjadi tua, keriput, dan tidak akan lagi pemuda berbondong-bondong memperebutkanmu. Peduli apa pada kakek nenek yang sudah tak berdaya. Kelak anak cucumulah yang akan menyayangimu dengan tulus. Jangan sombong akan nikmat ini ya akhi ya ukhti. Bisa juga paras menarik menjadi cobaan bagimu. Apakah imanmu masih kokoh atau terseret dalam kesenangan yang fana.
            Upload selfie di depan mobil mewah? Nongkrong di cafe yang sedang hits? Well, bukannya apa. Apakah semua itu hasil kerja kerasmu? Atau masih milik orangtua yang dengan bangganya kau umumkan ke seluruh dunia. Jujur, aku pribadi lebih senang melihat seorang pemuda yang berpenampilan sederhana. Meski pun casingnya rata-rata, tidak macho, tidak gaul, namun lihat dalamnya.. ia orang yang taat pada Allah, pekerja keras, bertanggung jawab, dan setia.
            Terhebat? My dear friends, di atas langit masih ada langit. Tak perlu kita menunjukkan bahwa kita hebat dan oranglain harus tau, tak perlu akhi, ukhti. Hanya Allah lah yang terhebat. Kita manusia banyak sekali aib dan kekurangan. Jika Allah buka aib kita, pastilah tak ada orang yang mau mendekat, melirik saja ogah. Bersyukurlah pada Yang Maha Kuasa.
            Diperebutkan banyak wanita/pria? Well, untuk apa teman? Jangan sering kau tebar pesona ke setiap orang yang kau temui. Apalagi ikhwan, perlu kau tau akhi, hati wanita itu lembut dan sangat sensitif jika berbicara mengenai perasaan. Jangan coba-coba mendekatinya kalau tidak ada niat untuk menikah. Pun menurut sudut pandangku, aku lebih suka sosok yang malu-malu saat bertemu denganku dan memilih menjauh saat ada diriku namun dengan gagah berani mendekati ayah untuk memperjuangkanku.
            Ini untuk teman-temanku tersayang di SMA. Aku tahu, pasti pernah terpikir olehmu “Aku harus miliki dia! Bagaimana pun caranya. Meski pun aku harus menyebrangi lautan”  ini salah besar dan sangat kuno my dear friends. Kau tak bisa memaksa hati seseorang. Pun sadarlah, ini masih SMA. Belum bisa kau menghalalkanya. Toh, seberapa banyak modusmu ke dia, jika Allah bilang bukan jodoh, mau apa? Akankah kau meneguk asinnya air laut yang kau tenggelam saat menyebranginya?
            Memaki? Marah-marah karena sesuatu menyesakkan? Mungkin di saat UTS dibagikan semua nilaimu mendapat nilai yang kau anggap baik kecuali matematika dan ekonomi yang sangat DOWN. Oh friend, ini sakit. Lantas, apakah kita harus marah? Tidak, lebih baik muhasabah diri dan berusaha sebisa mungkin. Memang aku tau, beberapa orang termasuk aku merasa payah dalam mapel hitung-berhitung. Namun, saat kau dan aku merasa sangat putus asa dan tidak bisa dan ingin menangis dan ingin memakan buku matematika dan ekonomi, ups.. jangan begitu. Aku punya satu tips sederhana. Ingatlah Allah friends. Dia akan membuka jalan. Yang membuatku tenang adalah aku teringat bahwa hidup seorang Muslim dijamin oleh Allah. Jadi, untuk apa aku bergalau ria karena nilai matematika dan ekonomi yang buruk? Yang sampai 3 hari 3 malam tidak makan? Tidak, namun aku akan berusaha sebisaku dan berdoa pada Allah meminta pertolongan.
            Akhi ukhti, apa kabar hati? Masihkah ia bergetar saat disebut nama Allah? Atau malah hatimu terus menerus kau beri noda hitam berupa syahwat yang menggebu yang kau sebut dengan cinta? Ya, sejatinya jika kau menyukai seseorang dan sangat terobsesi memilikinya, itu hanyalah syahwat belaka. Jika benar kau mencintai seseorang, cintailah dia dalam diam. Jagalah hatinya, dan adukanlah perasaan itu hanya kepada Yang Maha Penyayang dan ingat jangan mendikte Allah untuk disatukan dengan sebuah nama. Pasrahkan sepenuhnya perasaan itu pada Allah. Hingga esok lusa, jika memang sudah benar siap, bolehlah kau bawa rombongan keluarga untuk menyatakan perasaan itu.
            Sebentar, aku ingin menyelipkan pengalamanku kemarin. Sungguh, aku baru saja menyadari hal yang besar. Banyak ilmu kudapatkan dari mba vida dan kang abay. Dari seminar mereka, aku menjadi sadar bahwa cinta adalah mengikhlaskan. Tak perlu ada ikatan apa pun antara dua insan yang belum halal dan tak perlu saling menunggu satu sama lain. Yang perlu kulakukan adalah menerima ketentuan-Nya dan mengikhlaskan pengharapan di hati. Dan dari seminar itu, aku menjadi tahu, tidak harus seorang pangeran sempurna yang datang pada ayahku. Yeah, dia harus mau bertengkar, menghadapi ujian, saling melengkapi kekurangan, dan bersabar melewati liku-liku kehidupan. Bersama-sama memiliki misi untuk meraih ridho Allah hingga ke Jannah bersama-sama. Saat ini aku hanya perlu menggapai cita-cita dan cinta yang sesuai ridho-Nya. Terimakasih kang abay dan mba vida untuk ilmu yang telah kudapat, jazakumullah khoir.
            Saat menulis ini, kurasakan bahwa Allah begitu mencintai hamba-Nya. Sekarang aku bisa bernafas, bisa mendengar suara merdu Muhammad Thoha Al Junayd melantunkan ayat cinta-Nya, aku bisa menikmati secangkir max tea, disayangi ayah ibu, dikelilingi oleh teman-teman yang shalih dan shalihah yang terikat di Rohis. Kau juga merasakan hal yang sama? Merasa begitu diperhatikan dan sangat dicintai oleh Allah. Kupikir, yang memiliki cinta begitu dahsyat dan kuat untukku hanyalah Allah. Lihatlah, Dia mengatur hidupku sedemikian teraturnya. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman 13)
Kemudian, ada yang sudah mencintaiku 1400 tahun yang lalu. Dia adalah Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menangis mengkhawatirkan nasib umatnya, bahkan di akhir hayatnya, ia menyebut umati umati umati.. Aku rindu, begitu rindu ingin bertemu, melihat wajahnya yang indah bagaikan purnama. Ya Allah aku mohon perkenankanlah aku dan pembaca blog ini termasuk umat Rasul yang mendapat syafaat dan dapat berjumpa dengannya. Aamiin..
Satu lagi, ingatlah firman-Nya

“...Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid : 20)

Menjaga Kehormatan Perasaan

16:07 12
Tentang perasaan seorang hamba Allah. Kau harus tahu bahwa saat ini aku berusaha untuk menyimpan hatiku. Hanya kuberikan untuk yang spesial dan terbaik yaitu dia. Ya, dia yang namanya tertulis di Lauhul Mahfudz untukku. Biarkanlah seorang aku sendiri terlebih dahulu. Jikalau benar kau menyukaiku tolong jangan tampakkan perasaan itu! Harusnya kau bisa menyimpan rapat-rapat dan dalam hatimu saja. Jangan kau coba-coba untuk mengetuk hatiku namun sebutlah namaku saja dalam doamu. Aku mengerti bahwa perasaan jatuh cinta pada lawan jenis memang hal yang lumrah. Tapi, menjadi tidak lumrah jika rasa cintamu untukku melalaikanmu dari Allah.
Untuk lelaki yang sedang kasmaran, kalian jangan pernah bermain dengan perasaan seorang perempuan. Jangan langsung utarakan bahwa kau mencintanya jika kau seusiaku. Namun, cintailah dia dalam diam dan doakanlah. Jika memang jodohmu pasti akan dipersatukan Allah pada waktu yang tepat. Jikalau bukan jodoh, lupakanlah dan bersyukurlah pada Allah telah menghadirkan sosok yang lebih baik. SALING MENJAGA HATI, ITU POIN PALING PENTING. Jangan, kau usik hatinya biarkan dia khusuk memperbaiki diri dan bermesraan dengan Rabb Penggenggam Jiwa.
Pic by me
Ini bukan tentang aku juga menyukaimu atau tidak namun hei, ini tentang sebuah komitmen. Aku sudah berprinsip untuk menjadi single hingga Allah pertemukanku dengan jodoh dunia akhirat. Maaf saja, jika kau merasa berjuang sendiri. Biarkanlah waktu yang menjawab apakah semakin lama perasaanmu itu semakin memudar atau bertambah kuat. Hati memang tak bisa dipaksa, jiwa berlabuh hanya untuk menjaga fitrahnya yaitu kesucian.
Tolong, jangan karena pergaulan di SMA seperti bebas antara laki-laki dan perempuan, kau seperti menutup mata mengenai batas-batas syariat, janganlah begitu. Ini bukan kisah tokoh fiksi dalam novel seperti Dilan dan Milea tapi seorang Zalfaa. Jangan samakan aku dengan Milea yang jatuh cinta pada panglima tempur geng motor dan orang seasyik Dilan. Sungguh, saat ini aku hanya ingin menjaga hati dan tidak ingin terjebak dalam perasaan semu saat SMA.
Aku memang sedang merindu sosok yang aku pun belum tahu siapa dan dimana dia saat ini. Kusalurkan rasa rindu ini dengan menguntai doa untuk jodoh masa depan. Aku harap dia laki-laki yang bermanhajkan salafush shalih. Yang bisa bilang ke ayah dan membuktikan bahwa dia akan selalu sigap mengingatkanku untuk sholat wajib di tepat waktu. Yang siap membangunkanku di sepertiga malam. Yang bisa menundukkan pandangan saat melihat wanita yang bukan mahram. Yang bisa menggenggam jemariku saat langkahku sudah sangat jauh dari jalan-Nya. Aku ingin dia bisa menjadi imam yang baik. Wahai teman hidup masa depan, semoga saat ini kau syahdu dalam ketaatan dan selalu mendapat perlindungan dari Allah di setiap langkahmu. Temukan aku dengan cara yang diridhoi-Nya, in shaa Allah aku bersedia menunggu hingga waktu itu datang.

Menunggunya seperti irama penantian yang penuh dengan melodi indah. Sebuah ketidakpastian yang selalu kurindu kehadirannya. Tak pernah lelah walau tanpa kepastian waktu. Kupercaya bahwa detik bahagia akan hadir. Maka, biarlah aku menjaga kehormatan perasaanku.
Untukmu yang sedang dalam masa penantian,
Wahai jiwa yang merindu, bersabarlah
Biarkan setiap episode kehidupan menuntun kita,
menuntun untuk terus memperbaiki diri dan mendekat pada-Nya
Waktu akan mengungkap seluruh misteri yang kau cari
Tak perlu terburu-buru dalam menjalani skenario-Nya
Esok lusa, akan berakhir juga masa penantian itu
Maka, jemputlah dia dengan cara yang dirihoi-Nya
Tak hanya sehidup semati namun sehidup sesyurga
Bersama dia, kau akan merasa surga lebih dekat
Selagi menunggu labuhkan jiwa pada Sang Pemilik Hati 
"Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Ali Imran : 31)
Sibukkan diri untuk terus memperbaiki diri. Masih banyak kewajiban lain yang harus kulakukan. Berusaha lebih taat pada Allah, berbakti pada orangtua, fokus pada perbaikan nilai-nilai di sekolah, berbagi pada sesama Muslim, dan menuntut ilmu syar'i mengingat diriku masih miskin ilmu agama. Luruskan niat karena-Nya. Cintai dan amalkan sunah Rasul. Jika kita mencintai Allah dan Rasul Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam dengan sebenarnya, in shaa Allah cinta terbaik akan kita dapat dari-Nya.


#selfreminder
#notetomyself
#semangatsinglesampaihalal
#jangangampangdimodusinzal
#kebanyakanhastag
#biaringapapa

Selayang Pandang Al Azhar University, Kairo

10:33 12
Source : sundiatapost.com
            Desir pasir di padang tandus. Segersang pemikiran hati. Terkisah kudiantara cinta yang rumit. Bila keyakinanku datang, kasih bukan sekedar cinta. Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan.
            Ada yang inget kalimat di atas? Yup, termasuk lirik Ayat-Ayat Cinta by Rossa. Lagunya enak didenger. Menurut Dr. Yusuf Qorodhawi dalam kitabnya halal haram, mendengarkan musik boleh saja (mubah) asalkan tidak menjurumuskan kita dalam hal negatif dan tentunya harus mengandung hal-hal positif, dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, wallahu a’lam. Kali ini gue ga bakal bahas hukum musik haram atau halal atau berdebat mengenai hukum musik itu sendiri. Namun mengenai hasrat gue yang entah bisa tercapai ngga.
            Well, cerita ini bermula ketika Rohis di sekolah gue akan mengadakan bedah buku. Of course, kita pengen mendatangkan penulis kondang dalam event ini. Terbetiklah ide untuk mengundang Kang Abik (Habiburrahman el Shirazy) yaitu penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta. Di saat wacana ini berusaha kami wujudkan semua antusias mengingat Kang Abik ini penulis yang tidak bisa dianggap remeh, lulusan Al Azhar pula, komplit dah!
            Gue dan Nadia yang bertugas menghubungi pihak Kang Abik. Gue kasih tau ya, telpon orang penting tuh harus antri. Nomor sering dialihkan saat itu, hikss. Tapi, kami nggak nyerah gitu aja. Setelah dihubungi beberapa kali tersambung juga dan hasil finalnya ternyata agenda beliau full selama 3 bulan ke depan. Hmm, lemes deeh..
            Tapi, laa tahzan kita semua berusaha menerima dengan lapang dan Alhamdulillah kemarin juga udah dapat ustadz. Kisah belum berakhir sampai sini bagi gue. Hal ini memberikan efek yang luar biasa bikin gueeeelo (kecewa) bagi gue mengingat gue suka dunia sastra dan berharap bisa ketemu penulis kondang macam Kang Abik.
            Untuk melampiaskan kekecewaan, gue pun mendengar lagu ayat-ayat cinta untuk flashback ke film jaman gue masih umur berapa ya,lupa. Kayaknya waktu itu masih imut-imut nan polos gitu deh saat film Ayat-Ayat Cinta booming. Nah disitu gue streaming juga film Ketika Cinta Bertasbih.
            Gue suka dengan setting yang digunakan Kang Abik, pasti berhubungan dengan Kairo, Mesir. Bangunannya terlihat tua namun artistik. Yeah, memang Mesir merupakan pusat kota budaya tertua di dunia. Karakternya pun juga berhasil memikat para pembacanya. Sebut saja Fahri, tokoh dalam Ayat-Ayat Cinta yang digambarkan sebagai pemuda sholeh, baik, dan pinter. Perf deh. Atau Khoirul Azzam (btw namanya bagus ya) artinya sebaik-baik niat, kurang lebih itu arti namanya. Dia juga mahasasiswa di Al Azhar dan berhasil lulus dengan predikat jayyid jidan.
            Dari situlah gue baru tahu kalau Mesir tuh indah, semua mahasiswa/mahasiswi disana murni pengen menuntut ilmu. Gara-gara barusan lihat Ketika Cinta Bertasbih, gua jadi tahu gimana keadaan di Mesir. Meski pun para penuntut ilmu harus menanggung rindu pada keluarga di rumah. Tapi, karena tekad mereka sudah bulat untuk menuntut ilmu, tertahanlah rindu itu, mashaa Allah.
            Nah, gue pun iseng cari-cari info beasiswa ke Al Azhar. Ternyata setiap tahun in shaa Allah ada dan syaratnya pun bagi orang berlatar belakang pondok pasti mudah yaitu tes tertulis dan lisan mengenai bahasa Arab dan hafal Al Qur’an minimal 4 juz (jus 30 ditambah 3 jus awal). Iseng, gue pun melanjutkan pencarian gue ke blog para penuntut ilmu disana. Katanya sih biaya hidup juga murah, cukup lah sekitar 750ribu-1juta per bulan. Ya, paling nggak nodong orangtua buat ngasih uang saku sekitar 1juta per bulannya, ehee. Kuliah di sana pun gratis dan hanya membayar buku sesuai tingkatan yang harganya relatif murah disana.
            Bagi yang mendapat beasiswa, ia akan mendapat 500ribu per bulan dan asrama gratis di Mesir. Hati gue pun mulai merasakan getaran pengen menununtut ilmu disana karena teringat kutipan dari Imam asy Syafi’i rahimahullah “Bagi orang yang beradab dan berilmu, hendaklah ia merantau ke negeri orang untuk menunut ilmu.” Disana gue ingin memperdalam ilmu agama gue sekaligus berhijrah ke negeri para nabi kata orang, sekaligus memperdalam kebudayaan disana.
            Gue sempet berdiskusi bareng ibu mengenai masalah ini. Well, beliau nggak masalah kalau gue pengen kuliah ke Al Azhar tapi beliau juga mempertanyakan emangnya gue bisa bahasa Arab. Uhh, gue pengen berteriak “KYAA..KYAA...KYAA..” kenapa dari dulu gue ga belajar bahasa Arab. Mana hafalan Al Qur’an nggak nambah-nambah. Ya, kalau masalah hafalan in shaa Allah bisa ditambah dalam waktu 1,5 tahun dari sekarang. Laah, bahasa Arab gue gimana donk. Ga ada modal sama sekali. Apalagi saat gue baca blog masisir (mahasiswa Mesir) katanya ada bahasa Arab penduduk Mesir lokal yang mesti dikuasai, kan kita bakal komunikasi sama mereka. Apa ya namanya, lupa.. Kayaknya nama bahasa Arabnya ammiyah, pokoknya ngomongnya lebih cepet, et dah bahasa Arab dasar aja kagak tau ditambah yang begituan. Bayangkan kalau kuliah disana dan semua bukunya berhuruf arab gundul dan gue sama sekali ngga bisa. Bayangkan, apa yang akan terjadi pada gue, gue bakal kayak anak ilang yang ngga tau apa-apa.        
Sampai sekarang keinginan gue buat ke Al Azhar, Kairo masih ada. Tapi, ya dimana gue harus nyari guru bahasa Arab (perempuan) yang bisa privat di rumah. Ada sih informasi dari mas Hasan, ketua rohis angkatan dulu kalau di Boyolali setiap hari apa ya, gue lupa. Pokoknya seminggu dua kali ada dauroh bahasa Arab, namun karena pulang terlalu sore orangtua ga boleh. Dan karena kondisi fisik gue gampang drop kalau kecapean sekarang ortu gue ga ngebolehin gue berpikir mengenai belajar bahasa Arab atau ke Al Azhar dulu. Soalnya baru aja gue sakit dan panas tubuh gue mencapai 39,6oC. Uh, rasanya waktu itu antara sadar apa nggak. Tapi, biarlah semoga bisa menjadi penawar dosa gue, aamiin.
            Yang jelas kalau gue lihat mahasiswa-mahasiswi di Al Azhar, Kairo semuanya berazzam kuat untuk memperdalam ilmu Islam di sana. Pasti orangtuanya pada bangga yak, gimana nggak bangga anaknya bisa menuntut ilmu di universitas Islam tertua. Di sana ada duktur (dosen) Al Azhar yang paham betul tentang Islam. Ke Kairo sekalian berhijrah ke lingkungan yang baik. Pasti di sana orang yang pakai cadar dan pakaian syar’i ga dianggap aneh bahkan banyak temennya.
            Sekarang sih kalau gue pikir untuk mempelajari bahasa Arab apalagi dalam waktu HANYA 1,5 tahun itu mustahil untuk menguasai semua. Paling nggak butuh waktu 2 tahun, itu pun harus berada di lingkungan orang yang berbahasa Arab. Hiks, nyesek. Kenapa nggak dari dulu ya gue mikirin hal ini.
            Ya udah kalau memang bukan takdir gue buat menuntut ilmu di Al Azhar semoga kelak kalau Allah izinkan biar anak gue yang ke Al Azhar. Yeah, nggak ada salahnya donk mulai dari sekarang pesen dulu sama Allah biar dikasih keturunan yang shalih dan shalihah, itu kata guru agama gue hehe. Semoga beneran gitu dah! Biar kata orang lulusan Al Azhar mau dibawa ke mana setelah ke Indonesia karena belum ada pekerjaan khusus buat alumni Al Azhar biarlah Allah yang menentukan masa depan alumni Al Azhar. Gue yakin bagi para penuntut ilmu yang hatinya ikhlas pasti Allah sudah mempersiapkan masa depan indah yang tak terduga.
Bukankah dunia itu seperti bayangan. Kata Ibnu Qayyim Al Jauziyah “Dunia itu ibarat bayangan, bila kau kejar ia akan lari darimu. Tapi,bila kau palingkan badanmu dia tidak punya pilihan kecuali mengikutimu.”
Jadi, tak usah khawatirlah mengenai masa depan. Semua sudah diatur oleh-Nya. Termasuk rezeki tak akan tertukar, jadi tenanglah. Sebenarnya kunci pokok dari kehidupan ini adalah menjadi orang yang bertaqwa karena Allah menjamin kehidupan orang-orang yang bertaqwa. Namun, untuk mencapai tingkatan ini memang sulit. Dibutuhkan latihan setiap harinya dan dukungan orang-orang terdekat.
Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 200 “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu (menghadapi kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan) dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.”
Beruntung di sini mencakup segalanya. Terjamin kehidupan dunianya. Juga di akhirat dijanjikan syurga oleh Allah. Mashaa Allah, beruntungnya orang-orang yang dapat mencapai tingkat bertaqwa.
            Begitulah sedikit curcol gue tentang Al Azhar. Berbahagialah kalian sekarang yang masih imut polos dan sedang di pondok. Manfaatkan semaksimal mungkin biar besok bisa dapet beasiswa ke Al Azhar. Kalau pun ngga dapet beasiswa ga usah khawatir, biaya hidup di sana ga mahal kok sekitar 750ribu-1juta, katanya sih udah termasuk asrama. Namun, kembali lagi ke masing-masing individu apakah hemat bin cermat atau masih suka jajan yang nggak perlu. Yeah, meski ga ke Al Azhar gue pengen bisa kayak Fahri (tokoh fiksi Ayat-Ayat Cinta) belajar menjadi hamba Allah yang baik, berakhlak baik, dan ikhlas. Semoga ya, aamiin..

Jangan Digembok, Kasihan

21:37 17

            Ini kisah dramatis banget guys. Kisah absurd pada masa putih abu-abu. Gue ngga akan bercerita mengenai kisah kasih di sekolah, karena gue pengen ceritanya kelak aja kalau Allah udah izinkan gue dan dia bersatu, eaa. Et dah, apaan sih. Pokoknya lucu aja kalau keinget yang satu ini, yaudah gue tulis aja yaa..
            Rabu, 25 Januari 2017. Itulah waktu kejadian ini berlangsung. Seperti biasa kelas gue, XI IPS 1, selalu ada tingkah konyol yang membuat perut terbahak. Entah itu kejadian temen gue yang keselek biji mangga (*eh nggak ada ding) atau saat berbicara mengenai temen gue yang gagal diet. Ada juga yang punya cita-cita tinggi yaitu pengen kulitnya jadi putih kinclong dan bersih bersinar. Hmm, semoga harapan lo bisa terwujud ya teman! Aamiin..
            Pagi hari dibuka dengan mapel PKn mengenai Hubungan Internasional. Muka-muka calon mahasiswa-mahasiswi HI di kelas gue terlihat berbinar dan begitu syahdu menyimak materi yang diberikan Pak Hardiman. Gue sih saat itu agak gagal fokus karena saat dini hari kebangun dan sulit tidur. Entahlah apa yang terjadi. Mata gue terasa lengket kayak ada lem dan hanya bisa hilang di saat Fatih Saferagic tiba-tiba dateng dan ngaji di kelas gue. Ok, ini kayaknya impossible.
Dilanjutkan mapel sejarah yang membahas organisasi nasionalisme yang bermunculan. Kalau pas kayak gini sih, rasanya pengen mempertahankan kemerdekaan NKRI. Dijelaskan gimana nyesek dan galaunya para pejuang jaman dahulu untuk merebut kemerdekaan. Yang gue tangkep sih, nggak ada yang namanya baper dan kasian saat membela NKRI. Semua ada perjuangan yang membutuhkan darah, keringat, dan cucuran air mata.
Contohnya nih di saat Belanda menyerang Surabaya membabi buta gak mungkin lah Bung Tomo bilang “Aduh cyin, gua Islam dan cinta damai. Biarin lah gua berdoa aja di rumah. Gua gak suka kekerasan” atau “Astaghfirullah, Belanda kejam amat! Tapi kan Islam rahmatan lil ‘alamin, gini aja dah gua banyakin berdoa aja biar Indonesia damai.” Pfft kalau gitu kapan Indonesia merdeka! Namun, Bung Tomo berhasil menggelorakan semangat rakyat dengan pekikan “ALLAHU AKBAR!” dan membakar semangat para mujahid masa itu, semoga Allah merahmati kalian. Yeah, dari sini gue bisa belajar kalau ada kemungkaran yang terjadi haruslah diberantas namun apalah daya saat ini gue masih di level terendah yaitu dengan membenci kemungkaran tersebut dalam hati.
Bel istirahat berbunyi. Banyak aktifitas temen-temen gue di kelas dan di sekolah. Ada yang pergi ke mushola buat sholat dhuha, lari dengan semangat 45 ke kantin karena takut keburu rame, berburu nasi goreng ke kantin, main gitar sambil nyanyi lagu galau dengan wajah mewek, dan ada juga yang memastikan apakah dia sudah mengerjakan PR pada jam selanjutnya apa belum, kalau belum, minjem temen lalu copas. Yeah, jiwa sosial anak IPS bro.
Lalu dilanjutkan dengan mapel ekonomi oleh Bu Darmini. Nulis gini gue jadi inget kalau masih punya tanggungan belajar. Minggu depan ada ujian lesan mengenai perdagangan internasional. Bantu doa yak agar besok Rabu minggu depan gue bisa maju dengan lancar dan situasi aman sentosa. Kalau jam ekonomi biasanya ada juga motivasi buat masa depan dari Bu Darmini.
Bel istirahat. Sholat dhuhur. Makan. Cek hp. Bel masuk.
Jam terakhir ada bahasa Indonesia. You know lah how was it feels. Udah hujan, suasana syahdu, jam terakhir pula. Mendukung banget kan buat merem sambil dengerin suara merdu Maher Zain. Saat itu sih ada penjelasan mengenai tugas karya tulis ilmiah. Oke, lagi-lagi gue jadi keinget tugas KTI yang belum sampai pada bab pembahasan. Uww, wahai kelompokku yang bernama Aza, Fery, Maryati marilah kita bersemangat dan bersatu untuk menaklukkan tugas berat ini. Pfft, dipikir-pikir banyak juga tugas gue. In shaa Allah dah, habis ngeblog gue nugas dulu.
Nah bel pulang berbunyi, gue langsung cari info apakah Rohis ada rapat atau tidak karena keesokan harinya ada acara seminar beda buku. Ternyata ngga ada. Di saat gue hendak pulang, Arsyad (temen gue sekelas) datang dengan wajah datarnya.
“Zalfaa..” katanya
Gue menoleh ke arahnya.
Oke, anggep aja ini serial sinetron yang nggak habis-habis episodenya. Ini momen paling dramatis saat gue masih SMA.
“Zal, ada yang membutuhkan pertolonganmu” Arsyad ketawa-ketiwi dan kayak nahan senyum gitu. Mana pas ngomong kalimat ini nadanya kayak di sinetron gitu. Ada yang aneh dari tingkahnya.
Maksud loo??
“Minta tolong apa Syad? Gue bertanya.
“Udah ke kelas aja dulu.” Dia hendak pergi menuju area parkiran.
Gue saat itu mikir, pasti ini cuma akal-akalannya doank mau ngerjain gue. Ah, nggak gue gubris deh. Namun, Arsyad kembali dan berkata, kurang lebih kayak gini “Bener Zal, kamu harus menolongnya.”
“Minta tolong apa?” Tanya gue lagi.
“Ada yang kekunci di kelas.”
What do you mean? Gue kan bukan penjaga sekolah, tanya kek sama Pak Raji atau siapa lah. Namun, karena gue sendiri juga penasaran dan berperikemanusiaan dan juga ingin menegakkan kebenaran dengan langkah mantap gue balik lagi ke kelas.
Gue pengen ketawa. Lo tau nggak, temen gue ada yang minta tolong lewat jendela. Et dah kerjaan siapa ini..
“Sendirian Za?” Tanya gue ke temen gue yang sedang histeris minta tolong lewat jendela.
“Enggak Zalfaa. Ada temen-temen di dalem. Bantuin.”
Gue pun menuju pintu kelas. Well, disitu ada gembok tapi ga dikunci. Tapi kan sama aja, temen-temen gue yang ada di dalem ngga bisa buka karena ketahan sama gembok tadi. Dengan izin Allah, gue buka tuh gembok.
SURPRISEEE!!
Di dalam masih banyak para manusia yang ingin keluar dari situ. Pada saat itu juga, Mooniffah langsung meluk gue.
“Zalfaa terima kasih. Untung kamu dateng!” Dia meluk gue erat kayak teletabies saat berpelukan. Terdengar juga ucapan terima kasih dari temen-temen gue yang lain. Saat itu gue merasa seperti superdede sang superhero atau pahlawan kesiangan karena saat itu juga belum sore.
“Kamu tau dari mana Zal, kalau kita kekunci?” Tanya temen gue.
“Tadi si Arsyad yang ngasih tau.”
“Beneran dah! Dia yang ngunci kita.” Kata temen gue.
Gue menepuk jidat. Dia yang ngerjain, dia yang minta tolong. What do you mean Syad?? You eager if I have to help them who you joked, it’s so asurd!  Pantesan tadi ketawa gitu. Hh, ceritanya ngerjain sebagian warga XI IPS 1 gitu..
Hmm, begitulah momen terdramatis dimana gue seperti pahlawan kesiangan. At least, gue bisa ngerasain lah gimana rasanya jadi spiderman yang nolong orang, ehehe. Kalo keinget ekspresi wajah temen-temen gue saat itu, bawaannya pengen ketawa. Saat mereka panik dan histeris minta tolong. Yang paling lucu ya kalo inget wajah mereka panik karena belum ngerjain PR akuntansi, mungkin termasuk wajah panik gue sendiri.
Perlu diketahui juga sobat, Allah berfirman dalam QS Al Kahf ayat 107-109
“Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana.”
Nah, kebajikan sekecil apa pun in shaa Allah akan bermanfaat kelak termasuk contohnya tidak punya niat jahil untuk mengunci teman di kelas, ehehe. Maka, mulai dari sekarang yuk berhijrah dan membangun pondasi iman dengan kokoh. Kalau pun rapuh, in shaa Allah akan ada teman shalih dan shalihah yang mengingatkan, jika kita tergabung dalam komunitas positif. Untuk menabung bekal ke akhirat agar kita termasuk orang yang berbuat kebajikan bisa dengan saling tolong menolong, seperti di saat ada yang meminjam bolpoin walau terkadang kembali tidak utuh seperti semula karena tutupnya hilang entah kemana, tak apa. Ikhlaskan, dan semoga Allah menerima amalan kita.

Kata Imam Hasan Al Bahsri “Lakukanlah kebaikan sekecil apa pun. Karena kita tidak tau kebaikan mana yang akan memasukkan kita ke surga.” Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum pembaca blog Muslimah’s Thinking.